Ketika hati telah memilihmu
Memagar kasih dalam pagar-Mu,
Asaku, senyum dara buatku tertawa
Tika tawa indah bertahta
Tika kisah bertemaram pualam
Tilam pijak ber-permadani intan
Kala Relung menggapai batas
Lewati mimpi yang di impikan
"Ini pilihan akhir, belahan jiwa nan indah" gegapku pada alam
Seketika itu berlari menjauhi kisah
Dua netra beradu tatapan nanar, kelu
Hujung lidah yang mengecap manis, kini bermada
Aksara madah pun beraroma pahitnya mada, hingga..
Manis dan pahit bersemayam di menu aswana
Saat...
Persimpangan lapak
Jiwa hening terusik opsi
Memilih dan dipilih, teruraikan
Antara cita dan cinta, menggigir
Hingga sunyi membungkus jiwa-jiwa hening
Kemana...?
Banyak jalan yang harus terjejak, memijak
Tersakiti, di tinggal begitu saja, olehmu
Yakinku..., ada di sanggar remang
" Meninggalkan aku dirimu..., diri-Mu tetap ada" rintihku
“Tirta langit membumi di kotaku, sayang” aku berbisik
“Biarkan kita terapung, di genangan itu”, balasmu
“Sungguh..”
“Ayo, mari buktikan”
Bunga-bunga pun melayu tersapu banjir, raib dari bumi kalbu
Tertinggal taman yang berserakan "ahhhh" sesalku mengangkasa
Menimpa siapapun atau apapun
-----------------
" TENTANGMU "
___Yogya-'97 ___
Kumpulan: @@ jiwa-jiwa terbuang @@
selamat datang
Minggu, 26 Februari 2012
Sahabat Mahabbah
Renung rejana malam
Dian pijar memagut kelam
Hening dekap kias merajut
Rentas angan membumbung
Dua kelopak netra sahabat bertatap
“Engkau adalah sahabatku”lembut membisik
Di sela sayup anila menjalar sekelebat rasa
Tak berhenti menjerit lirih, tersandera rindu
“Akanmu kita merentas buana pijak”nalar mendekap resah
Kita bermandi air persahabatan
Meniti lorong gelap menimang gamang
Meminang dian di pendaran Sang Pemilik
Lembut anila setia temani pijak, menjejak
Elus dingin mendera kulit kian keriput
Usia persahabatan kian terlarut, gigir-Mu
Keheningan selimuti rasa antara nalar, kita
Aksara tertoreh di diary asa
Tinta kian mengering , warna memudar
Sahabat….,
Ukhuwah tak sebatas rasa
Juang kita di telaga bumi, sebatas mutasi
Kita akan saling bertaut di gerbang masyhar-Nya,
Dalam barisan ‘alif’, santunkan ‘mim’ di hadapan-Nya
Ber-ukhuwah, beruswah dalam ‘ya’-Nya, horizon
$$$$ ~Salam Aksara Sahabat DUMAY ~ $$$$
Dian pijar memagut kelam
Hening dekap kias merajut
Rentas angan membumbung
Dua kelopak netra sahabat bertatap
“Engkau adalah sahabatku”lembut membisik
Di sela sayup anila menjalar sekelebat rasa
Tak berhenti menjerit lirih, tersandera rindu
“Akanmu kita merentas buana pijak”nalar mendekap resah
Kita bermandi air persahabatan
Meniti lorong gelap menimang gamang
Meminang dian di pendaran Sang Pemilik
Lembut anila setia temani pijak, menjejak
Elus dingin mendera kulit kian keriput
Usia persahabatan kian terlarut, gigir-Mu
Keheningan selimuti rasa antara nalar, kita
Aksara tertoreh di diary asa
Tinta kian mengering , warna memudar
Sahabat….,
Ukhuwah tak sebatas rasa
Juang kita di telaga bumi, sebatas mutasi
Kita akan saling bertaut di gerbang masyhar-Nya,
Dalam barisan ‘alif’, santunkan ‘mim’ di hadapan-Nya
Ber-ukhuwah, beruswah dalam ‘ya’-Nya, horizon
$$$$ ~Salam Aksara Sahabat DUMAY ~ $$$$
Kau Dan Aku
Kala sajak mengalirkan diksi
Dari rima apa dan mengapa
Nalar kita saling menafsir
Tentang rasa
Tentang ragu
Tentang rindu
Kau dan aku dalam rasa
Membingkai ragu terkanvas
Membilang rindu dalam matras
Bercahaya metafora cinta membias
Di akhir bait diksi seloka cinta
Terlahir kias penggugah kalam
Cinta atas nama-Mu bertutur
Imbangi belaian manja sang bayu
Selimuti hasrat penutur kidung
::: saduran dari senandung senja
dalam : mamiri menutur ...
Dari rima apa dan mengapa
Nalar kita saling menafsir
Tentang rasa
Tentang ragu
Tentang rindu
Kau dan aku dalam rasa
Membingkai ragu terkanvas
Membilang rindu dalam matras
Bercahaya metafora cinta membias
Di akhir bait diksi seloka cinta
Terlahir kias penggugah kalam
Cinta atas nama-Mu bertutur
Imbangi belaian manja sang bayu
Selimuti hasrat penutur kidung
::: saduran dari senandung senja
dalam : mamiri menutur ...
SENANDUNG
Cahya gemintang angkasa
tersekat dalam lingkar kerlip galaksi
terpikat netra memaksa hasrat
mencumbumu di kisaran malam
apalah asa raga tak bersayap
Petik kecapi temani temaram
bisik sejenak pada sapuan anila
bahwasannya rindu bertengger
di kumparan mega kamulus pandang
Dawai hati senandungkan syair
permata hati di sekelebat bayang
meminang cahaya buat rembulan
bercumbu gemerlap di pematang rasa
bestari berlari entah dimana
pekat memekat kuasa nadir
Duhai pengeja jejak
sedekap atma pada titahMu
mengundak maksud di tilam pinta
bermighrab mardhatilah hamba meniti
makar terbaik adalah makarMu
:hamba bersidekap.......
......Senandung akhir pekan.......
tersekat dalam lingkar kerlip galaksi
terpikat netra memaksa hasrat
mencumbumu di kisaran malam
apalah asa raga tak bersayap
Petik kecapi temani temaram
bisik sejenak pada sapuan anila
bahwasannya rindu bertengger
di kumparan mega kamulus pandang
Dawai hati senandungkan syair
permata hati di sekelebat bayang
meminang cahaya buat rembulan
bercumbu gemerlap di pematang rasa
bestari berlari entah dimana
pekat memekat kuasa nadir
Duhai pengeja jejak
sedekap atma pada titahMu
mengundak maksud di tilam pinta
bermighrab mardhatilah hamba meniti
makar terbaik adalah makarMu
:hamba bersidekap.......
......Senandung akhir pekan.......
Syair Revolusi'Putih Ahbian
Kejayaan bebayang, bumi
bergerak melayang, revolusi
Setiap nafas di bumiMu
berikhtiar menjulang, evolusi
ber-uswahtun hasanah, mematri
tanpaMU lebur sirna bebayang
Berdiam jumawa, terlunta
kian di tabur, memutih revolusi
Setiap jasad terlunta
berjumawa kan tenggelam
jumawa sebatas uji tiap nafas, bumi
tanpaMu lebur sirna jumantara
Rintis manhaj para kekasihMu
laksana berlayar, sirat tersirat
gigir waktu menebas usia di raga
kemana diri selepas pergi
kembali raga pada si Empu-Nya........
bergerak melayang, revolusi
Setiap nafas di bumiMu
berikhtiar menjulang, evolusi
ber-uswahtun hasanah, mematri
tanpaMU lebur sirna bebayang
Berdiam jumawa, terlunta
kian di tabur, memutih revolusi
Setiap jasad terlunta
berjumawa kan tenggelam
jumawa sebatas uji tiap nafas, bumi
tanpaMu lebur sirna jumantara
Rintis manhaj para kekasihMu
laksana berlayar, sirat tersirat
gigir waktu menebas usia di raga
kemana diri selepas pergi
kembali raga pada si Empu-Nya........
Deraian Angin
Rindu memuncak rasa
Mengundang mahligai asa
Mendulang di telaga lara
Mengapung di samudra kuasa
Pada pendaranMu titah terarungi
Derai angin membelai amurka
Pada gegurat hati tereja
Semua cerita terlahirkan nyata
Walau sebatas kerjapan kerlip
Tersisih nuansa oleh dinamika tari
Eja sejenak manhaj nan Agung
Tak tersalah apa yang terkembang
Ada maksudMu di sebalik lara
Tersimpan manis di laci MasyharMu
Kemana diri akan bertanya, padaMu
**
Mengundang mahligai asa
Mendulang di telaga lara
Mengapung di samudra kuasa
Pada pendaranMu titah terarungi
Derai angin membelai amurka
Pada gegurat hati tereja
Semua cerita terlahirkan nyata
Walau sebatas kerjapan kerlip
Tersisih nuansa oleh dinamika tari
Eja sejenak manhaj nan Agung
Tak tersalah apa yang terkembang
Ada maksudMu di sebalik lara
Tersimpan manis di laci MasyharMu
Kemana diri akan bertanya, padaMu
**
Langganan:
Postingan (Atom)