selamat datang

Sabtu, 08 September 2012

PELACURKU DI BATAS SENJA

PELACURKU DI BATAS SENJA
Kehadiranmu tiba-tiba, senyum yang terbentuk dibelahan bibir nan ranum menggelitik imanku. Tubuhmu tak terlalu kurus, gaya melankonis mengingatkanku pada seseorang, di sampingmu berdiri anak perempuan manis, katamu –ini anakku Mas- masih berdiri dihadapanku, sebab aku dalam keheranan dan diselimuti tanda tanya –siapa yang berdiri dihadapanku..?- dan aku masih tergugu menanti keterangan dan jawaban, -mengapa engkau ada dihadapanku, dan bertandang sebagai tamu dirumahku- itulah yang terfikir dalam benakku. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua?

“Wualah mas, sukses ya sampean.!”

Aku masih membisu seraya membalas bincang basa-basinya dengan senyuman.
“Susahnya cari alamat sampean mas, muter-muter..!”

-Dapat dari mana alamatku, dan siapa yang memberikan-
“Aku Dian mas, pangling yo..?, gak berubah banyak wajahku kok mas, hanya sedikit keriput faktor usia menuju senja hehehe, Aku tinggal di depan kos-kosan sampean waktu kuliah dulu di yogya. Tidak jauh dari wartegnya Pak Maryono,” katanya memperkenalkan diri.
-Ahh, masa iya. Perasaan tidak ada sahabatku bernama Dian- kataku dalam hati. Itu lima belas tahun yang lalu. -Ketika itu saya masih kuliah.-
“Saat mas masih di Yogya, 5 kali pulang ke kampung dan saat semester semester 5 mas jarang pulang kampung, karena tugas kampus yang menumpuk, dan tersita waktunya dalam aktivitas organisasi kampus”katanya melanjutkan.
Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak siapa dihadapanku. Ia seakan-akan mengetahui diriku, ingin bertanya takut divonis karena kesombonganku –kacang lupa pada kulitnya-
“Wajahmu Mas, masih seperti dulu,” katanya melanjutkan.
“Tidakkah Mas Sandy merindu akan nostalgia di kota pelajar?” tanyanya.
-Masih dalam kebingungan- dia meluncurkan file-file lama di ingatanku
“Tidakkah Mas peduli lagi pada taman-taman indah yang pernah mas tanami tumbuh-tumbuhan, dan kembang aneka warna di kota gudeg itu?” tanyanya membuat aku kian risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun rumah keluarga idamanku di Yogyakarta, mengingat disana tersimpan kisah sejuta makna.
Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku.
“Waktu saya kuliah, Adek Dian masih SMP kan?” kataku.
Ia mengangguk dan berucap, “Saat keluarga kami krisis keuangan, Mas sempat membayar uang SPP-ku dan menanggung kebutuhan sekolahku” ucapnya diiringi segelintir air mata menetes di pipinya.
“Kalau begitu, Adek adalah Dina Trias Tanti, anaknya pak Sumarjono?”
“Ya, tapi sapaan Mas untuk saya kan Dian hehehe, ibarat pelita di kala gelap” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah.
Lalu ia mengatakan perlunya ukhuwah dan silaturahmi di jaga. “Jangan biarkan terputus silaturahmi antar sesama, dan pentingnya saling mengingatkan. Saya dengar Mas mencari saya Pasca Wisuda, dan saya sengaja menghindar.”
“Karena diwisuda itu saya membawa Sulis ya..?”
“Yah, pada waktu itu memang saya cemburu buta Mas, dugaan saya Mas membantu saya dan sekeluarga karena cinta terhadap saya, dan kecemasan itu berubah menjadi mimpi indahku, saat mekar kuncup bunga cintaku, ehh.., ternyata Mas membantu bukan karena mengharap imbalan, saya mendapat jawaban itu setelah saya kena musibah, dari bidadari yang merawat saya di Rumah Sakit Panti Rapih adalah dokter Sulistyowati, Sahabat Mas Sandy.”

“Musibah.., musibah apa Din..?”
“Keguguran, Mas..”
“Kok..!”
“Setelah saya tahu Mas tidak ada rasa cinta sama saya, saya frustasi, dan melampiaskan ke pergaulan bebas, lagian waktu itu Mas sudah meninggalkan Yogya, harapan untuk menggapai mimpi seakan tak ada imbal baliknya.”

“Oh…, sebenarnya…!”

“Ya Mas, saya tahu Mas menaruh hati pada saya, Mbak Sulis membeberkan semuanya, saat menangani saya dalam persalinan anak ini, nama tengahnya saya sisipkan kata SanWay kepanjangan Sandy dan Waty untuk mengenang kebaikan kalian berdua.”Dina memotong pembicaraanku, seakan tahu arah mana penjelasanku.
“Nasi telah menjadi bubur, Oya sampai sekarang Mas tidak menikah apa karena benih cinta terhadap saya yang tidak tersemaikan, ingat Mas keturunan kita akan bertanya-tanya tentang cerita dan kisah-kisah remaja kita, bagaimana Mas akan bercerita jika putra dan putri saja belum di agendakan” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita sudah sama-sama tua Mas. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau Mas perlu bantuan, aku akan menolong, banyak putri kota gudeg yang bisa diajak kompromi.”

“Akan kupikirkan,” kataku. “Lalu, Dian sendiri, sejak saya meninggalkan Yogya, langsung merid ya..?”
“Apa kolerasi dari pertanyaan Mas terhadap pernyataan saya.”
“Hehehehe..!”
“4 Tahun kita berdekatan Mas, seakan nafas dan detak jantungnya bisa saya notasikan iramanya, jadi jangan coba-coba ngeles dech..!”


Pertemuan singkat itu berlalu dalam hitungan tahun. Pembicaraan dan dialog bathinku, serta tarik ulur munajat istikharah tak menemukan kesimpulan. Harapan dan ikhtiar masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Harapan membangun keluarga Samara –Sakinah, Mawadah, Wa Rahmah-, namun ikhtiar menggapai derajat sukses di singgasana dunia, yang kesempurnaannya adalah kamuflase. –Mutasi mimpi menuju kehidupan nyata kelak-

Dan ketika aku mengetuk pintu senja, kutemukan dia, Dian meronce pernik manikam yang entah untuk siapa?. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua meter. Beberapa selang infus oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar Mas Sandy datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” ucapnya menahan beban.

“Mana Suamimu, Dek..?”
“Setelah saya mengetahui cinta tulus Mas untuk saya, Saya Dan Mas Angga pisah baik-baik, dan saya menanti kedatangan Mas, saya ingin membalas budi dan rasa bersalahku membawa harapan.”
“Lalu.., lalu mengapa tidak cerita saat kita berjumpa…?”
“Saya bukan pelacur Mas, selain itu saya sadar akan status saya, saya memegang ucapan Mas, Cinta jangan dipaksakan karena welas asih, kemulyaan wanita akan mulya kedudukannya jika tidak menawarkan dirinya kepada lelaki seperti pelacur.”
“Tapi kalimat itu, tidak tepat untuk konteks kita Dian..!”

“Saya tidak mampu bertahan hidup mas,” suaranya kian lirih. “Oya, Sanway kapan hari saya bawa, bukan anak saya, tapi anak angkat saya, dan karena kondisi saya yang tidak memungkinkan lagi, saya serahkan kepada ibu angkat yang baru. Saya sengaja bilang anak saya, hanya sekadar melihat reaksi Mas, bisakah menerima saya dalam status Janda beranak.”Dina menjelaskan dengan linang air mata di kunjunganku yang kesekian kalinya.
“Okhh…, kadang persoalan kebohongan mampu memberi jawaban kebenaran, dan kadang pula mampu memberi jawaban kesalahan yang parah, bahkan menyakitkan. Maka sejauh mana kita mampu memainkan topeng kebohongan, kapan dilepas dan kapan dikenakan. Jika ingin kewaajaran, maka jangan kenakan topeng."
Dina masih dirumah sakit saat saya tinggalkan Yogya, sebab ada panggilan mendesak dari kantorku.
Dalam kesibukan dentingan waktu ada yang memberi kabar, Gino berbisik padaku, “Dina melewati masa krisis, dan telah menerima pinangan dari Sang Khaliq, Ia sudah tiada, pada usia muda.”
“Kemarin, baik-baik saja kok, malah saya berencana ta’aruf..”
Selang beberapa detik, telepon selulerku berdering, dan muncul nama –Dindaku-, saat diangkat, ayahnya yang berbicara panjang lebar, namun saya tak mengetahui apa dan mengapa. Hanya dengungan digendang telingaku dan tak sadarkan diri, saat saya membuka mata, teman-teman pelatihan shoftwere berdiri disamping ranjangku, dan perwat berpakaian putih-putih. –okh.., aku di Rumah sakit, lamakah aku pingsan tadi-
“Mas, Kami dapat telepon dari securyty Mall Cilandak Town Square , yang mendapati Mas terjatuh di tangga eskalator tak sadarkan diri, dan membawanya ke Rumah Sakit.”Ineke teman Penataranku menjelaskan ikhwal kejadian
“Akh, tadi saya sama Gino kok..!” saya menjelaskan ikhwal pertemuanku dengan Gino
“Saya tidak kesana Mas, Kami tadi belanja persiapan untuk presentasi kita.”Suara Gino disampingku setelah berdiri dari duduknya.
“Ya Allah, Ya Jabbar” kataku kepada diriku sendiri.
Kami terlahir dalam genggamanMu. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliran Dian, mungkin esok giliranku? bisikku pada diriku.
Melintasi dimensi ruang, bumi beredar dalam porosnya, dihadapan netra sahabat-sahabatku ibarat dedaunan, mengering menguning, tersapu angin ‘ajal’ gugur membumi, aku yang entah kapan akan melambaikan tangan pada dunia glamor, dunia keindahan, dunia kesuksesan, kejayaan. Padahal DIA yang Maha Agung, meletakkan segala kesuksesan dan kejayaan dalam koridor –Amalan agama yang sempurna-
“Okh…, senja…!”

Bumi Batara Guru, 09092012_By : Musyafir Kata SRPA

Minggu, 26 Februari 2012

TENTANGMU

Ketika hati telah memilihmu
Memagar kasih dalam pagar-Mu,
Asaku, senyum dara buatku tertawa

Tika tawa indah bertahta
Tika kisah bertemaram pualam
Tilam pijak ber-permadani intan

Kala Relung menggapai batas
Lewati mimpi yang di impikan
"Ini pilihan akhir, belahan jiwa nan indah" gegapku pada alam

Seketika itu berlari menjauhi kisah
Dua netra beradu tatapan nanar, kelu
Hujung lidah yang mengecap manis, kini bermada
Aksara madah pun beraroma pahitnya mada, hingga..
Manis dan pahit bersemayam di menu aswana

Saat...
Persimpangan lapak
Jiwa hening terusik opsi
Memilih dan dipilih, teruraikan
Antara cita dan cinta, menggigir
Hingga sunyi membungkus jiwa-jiwa hening

Kemana...?

Banyak jalan yang harus terjejak, memijak
Tersakiti, di tinggal begitu saja, olehmu
Yakinku..., ada di sanggar remang

" Meninggalkan aku dirimu..., diri-Mu tetap ada" rintihku

“Tirta langit membumi di kotaku, sayang” aku berbisik
“Biarkan kita terapung, di genangan itu”, balasmu

“Sungguh..”
“Ayo, mari buktikan”

Bunga-bunga pun melayu tersapu banjir, raib dari bumi kalbu
Tertinggal taman yang berserakan "ahhhh" sesalku mengangkasa
Menimpa siapapun atau apapun

-----------------
" TENTANGMU "

___Yogya-'97 ___

Kumpulan: @@ jiwa-jiwa terbuang @@

Sahabat Mahabbah

Renung rejana malam
Dian pijar memagut kelam
Hening dekap kias merajut
Rentas angan membumbung
Dua kelopak netra sahabat bertatap
“Engkau adalah sahabatku”lembut membisik

Di sela sayup anila menjalar sekelebat rasa
Tak berhenti menjerit lirih, tersandera rindu
“Akanmu kita merentas buana pijak”nalar mendekap resah
Kita bermandi air persahabatan
Meniti lorong gelap menimang gamang
Meminang dian di pendaran Sang Pemilik

Lembut anila setia temani pijak, menjejak
Elus dingin mendera kulit kian keriput
Usia persahabatan kian terlarut, gigir-Mu
Keheningan selimuti rasa antara nalar, kita
Aksara tertoreh di diary asa
Tinta kian mengering , warna memudar

Sahabat….,
Ukhuwah tak sebatas rasa
Juang kita di telaga bumi, sebatas mutasi
Kita akan saling bertaut di gerbang masyhar-Nya,
Dalam barisan ‘alif’, santunkan ‘mim’ di hadapan-Nya
Ber-ukhuwah, beruswah dalam ‘ya’-Nya, horizon

$$$$ ~Salam Aksara Sahabat DUMAY ~ $$$$

Kau Dan Aku

Kala sajak mengalirkan diksi
Dari rima apa dan mengapa
Nalar kita saling menafsir

Tentang rasa
Tentang ragu
Tentang rindu

Kau dan aku dalam rasa
Membingkai ragu terkanvas
Membilang rindu dalam matras
Bercahaya metafora cinta membias

Di akhir bait diksi seloka cinta
Terlahir kias penggugah kalam
Cinta atas nama-Mu bertutur
Imbangi belaian manja sang bayu
Selimuti hasrat penutur kidung

::: saduran dari senandung senja
dalam : mamiri menutur ...